Buah Dari Keihlasan

Aku menulis ini bukan karena ingin dipuji atau menjadikanku riya’, tetapi tujuanku adalah semoga erita ini bisa dijadikan bahan renungan untuk kita semua. Amien.

Kejadian ini terjadi sekitar 2001 yang lalu. Aku adalah salah seorang karyawan Dept. Store di salah satu pertokoan di Jakarta. Seperti biasa, jika ada keperluan dengan teman, aku pergunakan waktu istirahat untuk menelpon dia. Begitu juga hari itu, maka jadilah aku antri di salah satu telpon umum yang tidak jauh dari tempatku bekerja.

Ketika aku berada dalam antrian, aku melihat seorang kakek dengan pakaian seadanya memasuki salah satu toko yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Walaupun nampak renta, namun aku masih dapat melihat sisa sisa kegagahan di masa mudanya dulu.

Dengan langkah pelan dan gemetar dia mendatangi beberapa orang satu per satu.

buah ikhlas

 

Hatiku sedih karena begitu banyaknya orang yang berada disitu, tetapi tidak ada satupun orang pun yang memberikan uang kepadanya. Kurogoh saku bajuku, cuma ada tiga lembar uang ribuan, itupun sisa kembalian aku belanja. Kuhampiri kakek itu dan kuberikan uangku tanpa sisa. Aku menyesal tidak dapat memberikan lebih dari itu aku segera pergi dan tanpa sadar aku menangis karena haru.

Keesokan harinya ketika aku hendak mengambil uang saku, aku heran sekali karena uang didompetku bertambah banyak. Dengan hati heran aku keluarkan semuanya. Aku hitung dengan teliti tapi memang ternyata uang tiu bertambah dari yang seharusnya.

Kucoba untuk mengingat ingat jumlah uangku yang sesungguhnya, siapa tahu jumlah uangku memang sebanyak itu, tapi semakin lama aku mengingat aku semakin yakin kalau uang itu jauh lebih banyak dari yang seharusnya aku punya.

Kucoba terus mengingat ingat, jangan jangan ada temanku yang menitipkan uangnya kepadaku, tetapi ingatanku tidak menemukan seseorang pun yang menitipkan uangnya kepadaku.

Terus terang aku jadi heran berulang kali aku mengingat ingat kembali tetapi tetap saja aku tidak tahu, dimana datangnya tambahan uang itu. Yang aku tahu, uangku yang masih ada tidak sampai sebanyak itu.

Tiba tiba aku teringat kakek yang betemu denganku kemarin. Hatiku bergetar, dalam hal ini bukan rasio lagi yang bicara. Kebesaran Allah tidak semuanya bisa diterima akal sehat. ku tidak bisa menahan air mataku lagi, tiada putus aku menyebut kebesaran-Nya. Kurasa begitu dekat aku dengan sang khalik. Dengan sifat Rahman Rahim-Nya, Dia menunjukkan bahwa Dia akan selalu bersama orang orang yang ikhlas.

Kini aku mengerti mengapa uang disompetku bertambah banyak. Aku yakin semua itu semata mata atas kehendak Allah swt. Aku semakin yakin bahwa Allah akan membalas kebaikan kita, lebih daripada yang bisa kita berikan, baik didunia ini, terlebih diakhirat nanti. Aku bahagia bisa menjadi saksi kebesaran-Nya dan semakin menambah kecintaanku kepada Rabb Penguasa Alam Semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *